Tentang Golongan Keluarga KH Saifuddin Zuhri

​Saat KH Saifuddin Zuhri Bingung Tentang Golongan Keluarganya 

KH Saifuddin Zuhri kecil pernah merasa bingung dengan status sosial atau golongan keluarganya, beliau bingung dari golongan manakah ia dilahirkan, pedagangkah atau petanikah?. 

Hal tersebut beliau ceritakan sercara apik dibagian awal buku An Authorizes Memoris KH. Saifuddin Zuhri “Berangkat Dari Pesantren” yang beliau tulis pada tahun 1979. 

Waktu itu, Saat usianya baru 11 tahun, Saifuddin kecil baru saja meyelesaikan Sekolah Dasar Bumiputra, seperti sekolah-sekolah pada umumnya sekarang, sebagai tanda telah meyelesaikan studinya maka seorang siswa atau murid akan menerima ijazah tenda kelulusan dari sekolahnya tersebut, Saifuddin kecil menyebutnya sebagai sertifikat.

“Tak keliru aku menyebut “sertifikat” bukan “diploma”, karena jenis sekolah yang kumasuki adalah Sekolah Dasar Bumiputra, tempat belajarnya anak-anak rakyat,”  

Didalam sertifikat tersebut ada satu kolom keterangan tentang golongan keluarga atau status pekerjaan orang tua yang nanti akan ditanyakan oleh guru sekolahnya. Hal itulah yang membuat KH Saifuddin Zuhri bingung, jika gurunya menayangkan hal tersebut. 

KH Saifuddin Zuhri lahir di Desa Kauman, Kota Kawedanan Sokaraja (Sekarang Kecamatan Sokaraja), 9 KM ke utara dari Banyumas, Jawa Tengah pada tangal 1 Oktober 1919. Ia adalah anak ke 8 dari 9 bersaudara yang lahir dari pasangan Haji Muhammad Zuhri dan Siti Saudatun. 

Haji Muhammad Zuhri adalah seorang petani yang taat dalam menjalankan syariah agama, ayahnya adalah Haji Abdurrasyid, salah satu tokoh terpandang di Sokaraja pada masa itu. 

Sedangkan ibunya, Siti Saudatun adalah  seorang pengrajin batik. Baik tulis karya ibunya digemari oleh orang-orang di desanya, termasuk para priyayi atau orang-orang berada menyukai batik karya Siti Saudatun. 

Ayah Siti Saudatun adalah Mas Amari, KH Saifuddin Zuhri memanggilnya dengan sebutan Eyang Kakung. Mas Amari merupakan keturunan seorang priyayi, namun ia memilih hidup sebagi saudagar. Ia tinggal di Purbalingga, kota dimana ibunya KH Saifuddin Zuhri dilahirkan.

Bayang-bayang pertanyaan guruku tentang masuk “golongan apakah dua orang tuaku” itu terus saja menggoda dikepala. Namun akhirnya kuputuskan untuk mengabaikannya. Aku tidak mau diganggu oleh pertanyaan seperti itu. Golongan apa pun orang tuaku, jadilah. Yang pasti, orang tuaku golongan orang yang baik-baik. Aku sangat mencintai mereka, aku bangga memiliki orang tua seperti mereka. 

Iklan

Jejak Langkah Syekh Nahrawi Al Banyumasi

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Banyak ulama Nusantara yang belum terekam jejak peninggalannya sehingga banyak dilupakan oleh kalangan intelektual Muslim saat ini. Salah satu tokoh ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh besar dalam sanad keilmuan ulama-ulama di Nusantara adalah Syekh Ahmad Nahrawi Banyumas.


Direktur Islam Nusantara Center A Ginanjar Sya’ban membahas jejak peninggalan Syekh Nahrawi dalam diskusi rutin Sabtu, (30/9) di Ciputat, Tangerang Selatan.

Kiai Nahrawi lahir di Purbalingga pada tahun 1276 H (1860 M). Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom. Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi.

“Nama lengkap beliau adalah Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi. Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,” ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.

Kitab tersebut menurutnya menceritakan tentang Syekh Nahrawi yang dilahirkan di Banyumas dan datang ke Mekkah pada usia 10 tahun. Dalam kitab itu juga dituliskan bahwa ia sangat tekun belajar kepada ulama-ulama Masjidil Haram sampai akhirnya mendapatkan surat izin untuk mengajar di Masjidil Haram. Dalam kitab tersebut juga menurutnya diceritakan bahwa dari tangan Syekh Nahrawi keluar murid-murid yang menjadi ulama besar.

Dalam keterangannya, ada juga kitab lain yang memuat biografi Syekh Nahrawi yaitu Al-Mudarrisun fil Masjidil Haram. Kitab yang ditulis oleh Mansyur An-Naqib itu menurutnya berisi pengajar yang ada di Masjidil Haram dari abad pertama zaman sahabat sampai kitab itu ditulis.

“Biografi Syekh Nahrawi terdapat dalam juz 1 halaman 287,” tambahnya.

Ia menyampaikan peran Syekh Nahrawi Banyumas dalam jejaring keilmuan ulama Nusantara sangat besar. Hal itu menurutnya ditandai dengan beberapa karangan dan taqridz atas kitab-kitab ulama Nusantara. Bahkan, penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut juga menyampaikan Syekh Nahrawi merupakan gurunya ulama-ulama Nusantara.

“Habib Luthfi pernah mengatakan bahwa tidak ada karangan ulama-ulama Nusantara di Mekkah yang diterbitkan tanpa ada tanshih atau rekomendasi dari Syekh Nahrawi Banyumas. Guru utama Habib Luthfi bin Yahya yaitu KH Abdul Malik Purwokerto merupakan murid beliau (Syekh Nahrawi),” tambah penulis buku Laskar Ulama Santri dan Resoulusi Jihad itu.

Keterangan tersebut didukung oleh beberapa karangan dan taqridz Syekh Nahrawi yang disampaikan oleh intelektual Islam Nusantara A Ginanjar Sya’ban di antaranya, kitab Nadzom Risalatul Manasiq atau dikenal dengan Qurotul Uyun Linnasiq Al Muti’ bil Funun. Selain itu, menurutnya Syekh Nahrawi juga mempunyai kitab yang berisi ulasan atau ta’liq terhadap Risalah Kiai Ahmad Zaini Dahlan. Kitab yang berisi tentang ilmu Ballaghah itu menurutnya dicetak oleh Al-Maktabat Taroki Al-Majidiyah di Mekkah pada tahun 1911 M.

“Saat ini, manuskripnya tertulis milik KH Abdullah Umar Faqih Cemoro Banyuwangi,” tambahnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada juga manuskrip tentang fatwa Syekh Nahrawi yang berjudul Risalah fi Hukmin Naqus. Kitab yang sampai saat ini tersimpan di Pesantren Langitan, Tuban itu berisi tentang risalah hukum memukul kentongan yang menjadi tradisi Islam di Nusantara.

Dalam risalah tersebut, ia menceritakan ada seseorang yang menanyakan pendapat Syekh Nahrawi tentang ulama Nusantara baik di barat maupun di timur yang memukul kentongan yang terbuat dari sebilah kayu atau bambu dengan bertujuan untuk memberitahukan waktu masuknya shalat wajib. Tetapi setelah memukul kentongan, adzan, pupujian, dan iqamah pun dilakukan. Selain itu, mereka juga tidak menyukai agama para penjajah. Jadi orang tersebut menanyakan apakah hukum kentongan ini disamakan dengan hukum lonceng yang ada di gereja atau tidak.

Dari pertanyaan itu, jawaban dari Syekh Nahrawi menurutnya sangat moderat.

“Beliau menjawab bahwa ada banyak pendapat dari ulama. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, dan ada yang membolehkan,” tambahnya.

Selain itu, yang tidak kalah penting dari jejak peninggalan Syekh Nahrawi menurutnya yaitu Syekh Nahrawi sering memberikan taqrizh atau endorsmen pada kitab-kitab ulama besar waktu itu.

Beberapa kitab yang ditaqrizh yang disebutkannya yaitu Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah yang ditulis oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj pada tahun 1922 M. Kitab yang kedua itu menurutnya berisi jawaban mufti Mekkah terhadap persoalan yang ada di Nusantara. Persoalan tersebut seperti tradisi Nusantara muludan, tahlilan, ziarah kubur.

“Empat tahun sebelum Nahdlatul Ulama didirikan secara resmi, ulama Mekkah itu sudah buat fatwa kalau masalah-masalah tradisi Islam yang ada di Nusantara itu sah dan ada dalilnya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kitab tersebut merupakan dalil yang tak terbantahkan untuk kalangan Aswaja sekaligus menjadi dalil yang mematahkan argumen pihak-pihak yang mana mereka mengaku sebagai pihak-pihak ahlu ijtihad wal istinbat yang langsung mengambil hukum dari Al-Quran dan juga hadits.

“Dalam taqrizhnya, Syekh Nahrawi menulis bahwa mereka ingin mengambil langsung ke Al-Quran dan Hadits seperti Mujtahid tetapi mereka tidak mempunyai syarat-syarat ijtihad itu sendiri. Tetapi karena ideologi yang rusak dan sudah tertancap dan hatinya yang keras itu, mereka tidak mau mendengarkan dalil-dalil yang dituliskan oleh para ulama-ulama yang ahli keutamaan,” tambahnya.

Selain memberikan taqrizh, Syekh Nahrawi juga menulis sebuah catatan atau taqrirat penting atas kitab Fiqih Minhajul Qawwim yang ditulis oleh Syekh Nahrawi Banyumas pada tahun 1908.

“Kitabnya berjudul Taqrirat Qayyimah ‘ala Syarh Minhaj al-Qawwim fi al-Fiqh al-Syafi’i,” pungkasnya.

 (M Ilhamul Qolbi/Alhafiz K)

Tuhan, Selamatkan Saya Dari Semrawutnya Group WhatsApp 

Tuhan, Selamatkan Saya Dari Semrawutnya Grup WhatsApp

Semenjak WhatsApp (Wa) memiliki fitur group, teman teman saya seperti sedang berlomba-lomba membuat grup WhatsApp. 
Apa-apa dibuat grup, apa-apa ada grupnya, belum apa-apa sudah ada grupnya, grupnya sudah ada tingal masuk saja. 

Grup wa seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus ada didalam sebuah perkumpulan. 

Sedang bagi yang tidak masuk grup tersebut seolah-olah mendapat dosa besar, apalagi yang tidak memiliki wa, dosanya bisa berlipat lipat ganda tuh. He he he

WhatsApp memang hebat, karena menuntut Hp android kita supaya kuat, kuat menanggung beban obrolan dan percakapan, yang serat akan guyonan. 

Dan bagi yang memiliki Hp android jadul, saya sarankan untuk segera ganti dengan versi yang terkini, bukan apa-apa, hanya untuk mengantisipasi lamanya loading saja. 

Karena ramainya grup WhatsApp itu melebihi ramainya pasar rakyat, semrawutnya grup WhatsApp juga melebihi semrawutnya jalanan kota.

Maka dari itu bagi warga Desa Grup Kecamatan WhatsApp Kabupaten Android Provinsi Medsos supaya lebih berhati-hati ketika melintasi di jalan Dunia Maya. 

Karena jalanan sedang licin, jangan asal nyelip sembarangan, hindari ber WhatsAppan dalam kondisi ngantuk, dan patuhi rambu-rambu lalulintas yang ada, serta jangan lupa berdoa, 

“Tuhan, selamatkan saya dari semrawutnya grup WhatsApp!”

Semoga perjalanan anda menyenangkan dan Hp android anda selamat sampai tujuan.
Sekian, G29S/Wa

(Kifayatul Ahyar)

Tahun Baru Hijriah, Momentum Memperbaiki Niat Beribadah 

Pawai Obor Tahun Baru Hijriah

​Tahun Baru Hijriah, Momentum Memperbaiki Niat Beribadah 

Tahun baru Hijriah seharusnya digunakan sebagai momentum untuk memperbaiki niat dalam beribadah kepada Allah SWT. Karena niat merupakan salah satu pokok atau kunci dalam hal beribadah. 

KH Habib Mahfud (Gus Habib), Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Banyumas mengungkapkan hal tersebut ketika ditemui di kediamannya, Rabu (27/9) pagi. 

Gus Habib menerankan, ada dua golongan yang mengikuti Nabi dalam berhijrah, pertama golongan yang hijrah karena Allah dan Rosulnya, kedua golongan yang hijrah karena harta atau wanita. 

“Niat adalah kunci dalam beribadah” katanya. 

Selain itu, tahun baru Hijriah juga harusnya digunakan sebagai momentum untuk memperbaharui ketulusan dalam bersikap. Karena ketulusan atau keihlasan merupakan kunci kedua, setelah niat dalam beribadah. 

“Setelah kita berniat melakukan ibadah, maka tubuh dan hati kitapun harus ikhlas melakukan ibadah tersebut,” lanjutnya. 

Karena, jika sudah ada niat yang baik, tapi tidak ikhlas melakukannya, itu bisa menjadi percuma dan akan mengurangi pahala ibadah kita, tambah pria yang juga menjadi Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Miftahul Huda (STIQMA) Pesawahan Rawalo Banyumas itu. 

“Niat yang baik harus pula dibarengi dengan tindakan yang baik,yang ikhlas dan tuluas,” pangkas Gus Habib.

http://www.nu.or.id/post/read/81604/tahun-baru-hijriah-momentum-perbaiki-niat-beribadah

Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Seorang Warga Banyumas, Berhasil Mengolah Kotoran Kambing Menjadi Gas

Bagi sebagian orang, kotoran kambing atau “Bribil” mungkin hanya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk berbagai macam tanaman. Namun hal itu berbeda bagi Warseno (46) warga RT 01 RW 11 Desa Chionje Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Kotoran kambing yang semula hanya bisa dimanfaatkan sebagi pupuk alami saja, kini ditanganya kotoran kambing tersebut telah ia ubah menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masak-memasak. 

Sudah setahun lebih Warseno dan keluarganya mengunakan biogas dari kotoran kambing untuk memasak. Warseno mengaku “Sejak Bulan Mei 2016 lalu saya mencoba membuat biogas, sampai saat ini sudah setahun lebih saya dan keluarganya mengunakan biogas untuk memasak,”katanya.

Selain mengubahnya menjadi biogas, dengan alatnya yang sederhana itu Warseno juga berhasil mengubah kotoran kambing menjadi pupuk organik yang dihasilkan dari proses pembuatan biogas tersebut.

Warseno menjelaskan, “Gas yang dihasilkan oleh kotoran kambing dialirkan melalui paralon, lalu ditampung di wadah besar sebelum masuk ke dapur. Kemudian cairan dan kotoran dialirkan ke penampungan yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, dan ini sangat bermanfaat untuk tanaman,”.

Dalam waktu sehari, gas yang dihasilkan dari kotoran kambing tersebut, kata Warseno bisa digunakan selama empat jam untuk memasak. Dua jam dipagi hari, dan dua jam lagi disore hari, hal itu menurutnya sangat membantu untuk menghemat biaya rumah tanganya.

Kini, berkat ketekunanya membuat biogas itu, pria berusia 46 tahun yang pernah mengenyam pendidikan pertanian di Australia tersebut sering diundang kebeberbagi daerah untuk memberikan pelatihan biogas kepada masyarakat.

“Silakan buat siapa saja yang mau belajar tentang biogas ini saya siap untuk membantu, membagi pengalaman saya. 

Kepada pemerintah khususnya pemerintah desa,  saya harap untuk terus mendukung dan membantu apabila warganya berminat untuk membuat biogas seperti ini. Karena terus terang untuk pengadaan peralatan cukup memakan biaya,” Harapnya kepada pemerintah.

22 Tahun Kompas.com Mengudara di Jagat Maya

22 Tahun Kompas.com Mengudara di Jagat Maya

22 tahun mengudara di jagat maya bukanlah sesuatu yang mudah, butuh kerja keras dan perjuangan hinga berdarah darah. Mengingat 22 tahun bukanlah waktu yang sedikit, ibarat seorang bocah, ia sedang beranjak tumbuh menjadi manusia dewasa. 

22 tahun kompas.com hadir menemani kita, dari awal kemunculannya sebagai replika, namun kini telah berubah menjadi sebuah portal berita yang akurat dan dipercaya. 

Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pembaca didaerah yang sulit untuk dijangkau, bukan hanya juga untuk sekedar mendistribusikan bacaan, melainkan juga menjadi bacaan yang mencerdaskan. 

Sejak kelahirannya 14 September 1995 dan menjadi pionir media online di Indonesia. Kompas.com telah menunjukkan konsistensinya dan kulalitasnya sebagi media masa yang dapat dipercaya. 

Dari hari ke hari, Kompas.com telah banyak berbenah dan berubah. Dari mulai usia balita hinga dewasa, Kompas.com terus tumbuh dan berkembang, dari yang hanya sekedar menyediakan konten bacaan, namun kini juga menyediakan ruang kepenulisan. 

22 tahun Kompas.com dalam jaringan. Selama itupula Kompas.com menjaring informasi yang akurat dan berimbang. Semoga Kompas.com semakin tua usia, semakin  jernih melihat dunia, dan semakin bisa memberi makan dihati para pembacanya.

Salam Kompasiana…

Salam juga buat Mbak Cibi, Mbak Angel yang dulu pernah mengajari saya menulis berita, dalam acara diklat jurnalistik PP IPNU dan Kompas di Jakarta. Kapan bisa ketemu lagi? Saya ingin diajari menulis lagi?

#Media #22Kompascom
Ajibarang,

21 September 2017

http://www.kompasiana.com/kifayatulahyar/59c3d9cdbd5798092d179122/22-tahun-kompas-com-mengudara-di-jagat-maya

Film Itu Pernah Kita Tonton Bersama-Sama

Jauh-jauh hari sebelum heboh tentang film Penghianatan G30S/PKI yang kini sedang hangat dibincangkan dan banyak menuai pertanyaan ataupun pernyataan dari para tokoh nasional hinga tukang becak perempatan. 
Jauh-jauh hari juga sebelum terjadi kasus pengepungan kantor YLBHI Jakarta oleh sejumlah ormas pada saat acara pembacaan puisi, konser musik, dan nonton barang film G30S/PKI. 

Bahkan sangat jauh sekali, sebelum perdebatan apakah film G30S/PKI boleh ditonton atau tidak? Boleh tayang asal disensor? Tidak boleh tayang karena film berbahaya? Hinga muncul usulan pembuatan film G30S/PKI Rebron. 

Saya bersama teman-teman organisasi sayap pelajar, waktu itu saya sendiri sebagai ketua ranting dan sekaligus merangkap ketua panita penyelengaranya. 

Kami menyelenggarakan acara tepat pada malam 30 September 2014, acara yang bertajuk tahlil kebangsaan dan nonton barang film “Jegal”. 

Tidak ada yang aneh pada acara tersebut, acara berjalan sesuai rencana. Acara yang diawali dengan sholat magrib berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan wiridan dan tahlilan untuk mendoakan arwah para korban kerusuhan 30 September 1965, semuanya kami doakan. 

Hinga akhirnya selesai dan medang-medang, lalu lampu ruangan kami matikan, LCD Proyektor mulai dinyalakan, layar putih dibentangkan, laptop disambungkan, dan volume dikeraskan dan di putarlah film “Jegal” Ada Apa Dengan Cinta.

Bersambung…
30 September 2014